<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-15907701</id><updated>2011-07-19T06:00:57.370+07:00</updated><title type='text'>haji</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://hajimabrur.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15907701/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hajimabrur.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>upay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12306253052388235204</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://img.photobucket.com/albums/v189/upaysaleh/june2005.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>8</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15907701.post-115082271095772297</id><published>2006-06-20T23:38:00.000+07:00</published><updated>2006-06-20T23:58:32.010+07:00</updated><title type='text'>Travel tips</title><content type='html'>Coba ini:&lt;br /&gt;&lt;a href="http://islam.about.com/od/familycommunity/bb/travel_tips.htm"&gt;http://islam.about.com/od/familycommunity/bb/travel_tips.htm&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15907701-115082271095772297?l=hajimabrur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hajimabrur.blogspot.com/feeds/115082271095772297/comments/default' title='Publier les commentaires'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15907701&amp;postID=115082271095772297' title='0 commentaires'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15907701/posts/default/115082271095772297'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15907701/posts/default/115082271095772297'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hajimabrur.blogspot.com/2006/06/travel-tips.html' title='Travel tips'/><author><name>upay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12306253052388235204</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://img.photobucket.com/albums/v189/upaysaleh/june2005.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15907701.post-113523337835307524</id><published>2005-12-22T13:32:00.000+07:00</published><updated>2005-12-22T13:36:18.550+07:00</updated><title type='text'>Merokok dan Jamaah Haji</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"&gt;Sulit kah Meninggalkan Kebiasaan Merokok&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"&gt; &lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: Verdana;"&gt;Jeddah-RoL --&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; Badan Kesehatan Dunia (WHO) setiap tahun mengampanyekan hari tanpa tembakau, satu hari khusus untuk berkampanye untuk tidak berhubungan dengan rokok dan berbagai jenis produk tembakau. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"&gt;Berbagai penelitian ditemukan dalam tembakau dan asap rokok sedikitnya terdapat 400 zat berbahaya bagi kesehatan manusia.  Pemerintah Kerajaan Saudi Arabia dan Pemerintah Indonesia melakukan hal yang sama. Hanya saja Majelis Ulama masih berbeda pendapat mengenai kebiasaan merokok, ada yang mengharamkan dan ada yang menghukumi sebagai makruh saja. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"&gt;Jamaah haji Indonesia setibanya di Bandara King Abdul Aziz Jeddah langsung mengambil bungkusan rokok, menyulut dan menghisapnya. Sebuah pemandangan yang mudah didapatkan di mana-mana.  Di tempat tunggu pemberangkatan maupun di kedai-kedai, bahkan di tempat-tempat terlarang seperti ruangan berpendingin udara. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"&gt;Jamaah bahkan sudah mempersiapkan diri sebagai perbekalan yang tidak dapat ditinggalkan. Selain susah untuk mendapatkan rokok jenis kretek di Saudi Arabia, juga harganya sangat mahal. Ketika memasuki Bandara di antara barang bawaan ditemukan sejumlah besar bungkusan rokok, selain untuk keperluan sendiri juga berbagi sesama perokok. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"&gt;"Hak azasi," demikian dalih yang dijadikan pembenar ketika ada larangan merokok di tempat umum. Hanya saja hak orang yang tidak merokok juga memiliki hak yang sama untuk memperoleh udara segar yang terbebas dari asap tembakau.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"&gt;Perokok pasif demikian dampak yang diakibatkan dari menghisap udara yang tercemar asap rokok akan berakibat sama dengan para perokok aktif. Berbagai penelitian bahkan menyebutkan dampak yang ditimbulkan jauh lebih berbahaya bagi kesehatan para perokok pasif.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;a href="http://republika.co.id/online_detail.asp?id=227468&amp;kat_id=361"&gt;source&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15907701-113523337835307524?l=hajimabrur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hajimabrur.blogspot.com/feeds/113523337835307524/comments/default' title='Publier les commentaires'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15907701&amp;postID=113523337835307524' title='0 commentaires'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15907701/posts/default/113523337835307524'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15907701/posts/default/113523337835307524'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hajimabrur.blogspot.com/2005/12/merokok-dan-jamaah-haji.html' title='Merokok dan Jamaah Haji'/><author><name>upay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12306253052388235204</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://img.photobucket.com/albums/v189/upaysaleh/june2005.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15907701.post-113461328377436323</id><published>2005-12-15T09:20:00.000+07:00</published><updated>2005-12-15T09:21:23.836+07:00</updated><title type='text'>Tips Makanan</title><content type='html'>&lt;span class="judul"&gt;Boleh Bawa Rendang &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;         &lt;span class="underdeck"&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;&lt;/span&gt; &lt;p&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;Makanan sering menjadi persoalan bagi jamaah haji. Padahal jamaah haji, terutama yang ONH biasa akan berada cukup lama di Tanah Suci. Jika soal makan tak diperhatikan, dampaknya akan buruk bagi kondisi kesehatan. Jika kesehatan memburuk sudah tentu ibadah akan terganggu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span class="deskripsi"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;  &lt;/span&gt; &lt;p&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;Persoalan makan mulai timbul sejak di asrama haji, sesampainya di bandara, selama perjalanan ke Madinah dan Makkan, dan sesampainya di tujuan. Di asrama haji yang banyak terjadi jamaah terlambat mendapat jatah makan. Di bandara, bisa terjadi jamaah harus menunggu berjam-jam, padahal tidak ada jatah makan. Sedangkan dalam perjalanan dari Jeddah ke Madinah kadang waktu makan terlewat karena ulah sopir yang tak berhenti di pemberhentian seharusnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;Untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan itu, sebaiknya tiap jamaah menyediakan makanan kecil di tas tentengannya masing-masing. Jamaah bisa membawa persediaan biskuit, roti, kacang-kacangan, dan minuman. Selama di Tanah Suci jamaah bisa membeli makanan atau memasak sendiri. Makanan jadi bisa mudah didapat di Madinah dan Makkah. Banyak pedagang TKW Indonesia yang menawarkan makanan sampai ke depan pintu penginapan. Harganya 3 hinga 5 riyal (satu riyal sekitar Rp 3.000). &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span class="deskripsi"&gt;  &lt;/span&gt; &lt;p&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;Menunya, ikan atau telur dengan sayur. Jika mau makan di warung Indonesia harganya harga 5 hingga 15 riyal. Mau makan masakan Arab, kebuli, kebab, panggang sapi ayam, kambing juga boleh. Harganya di atas 5 riyal. Ingat sebelum makan ketahui dulu secara pasti berapa harganya.Selama di Arafah dan Mina, makanan disediakan. Namun jika ingin membeli juga banyak pedagang yang menyediakan. Dalam perjalanan, jangan lupa membawa makanan kecil karena sangat mungkin perjalanan ke Arafah dan kembali ke Mina memakan waktu lama.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span class="deskripsi"&gt;  &lt;/span&gt; &lt;p&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;Jika jamaah ke Arafah dengan jalan kaki, jangan lupa bekali tas ransel dengan makanan dan minuman, mengantisipasi kesulitan mendapat makan di jalan. Bila tidak ingin memasak jamaah haji bisa membawa makanan yang tahan lama dari Tanah Air. Misalnya rendang, abon, dendeng, mie, sambal goreng kacang, atau makanan lainnya. Makanan khas Tanah Air ini sangat membantu untuk mempertahankan nafsu makan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span class="deskripsi"&gt;  &lt;/span&gt; &lt;p&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;Jika jamaah ingin memasak sendiri, bisa dilakukan di penginapan. Namun kondisi penginapan tak semua sama. Ada yang menyediakan dapur dan peralatan masaknya. Namun ada juga yang tak membolehkan masak di penginapan. Ada jamaah yang mengantisipasi larangan memasak di penginapan ini dengan memasak di kamar mandi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span class="deskripsi"&gt;  &lt;/span&gt; &lt;p&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;Jika ingin memasak sendiri sebaiknya dilakukan dalam kelompok. Ada pembagian tugas membawa peralatan masak. Dengan begitu beban tidak menumpuk pada satu jamaah. Perlu diingat pula, jangan membawa kompor atau &lt;i&gt;magic jar&lt;/i&gt; dari Tanah Air. Barang-barang itu bisa mudah didapatkan di Tanah Suci. Sia-sia saja memasukkan perlengkapan tersebut ke dalam koper, karena pasti nanti akan dirazia.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span class="deskripsi"&gt;  &lt;/span&gt; &lt;p&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;Bahan-bahan masakan juga bisa didapat dengan mudah di Makkah maupun Madinah. Sayuran, beras, buah, telur, ikan, daging, bisa mudah dibeli. Ada baiknya bumbu dibawa dari Tanah Air. Boleh juga membawa kecap, sambal botol, dan saus. Sebenarnya, begitu tiba di bandara Jeddah, jamaah langsung mendapat makanan kecil untuk bekal perjalanan. Begitu sampai di Wadi Quded (jika ke Madinah) atau sampai di penginapan (jika langsung ke Makkah) disediakan makan besar. Setelah itu besoknya baru makan sendiri atau disediakan, jika di Madinah. Teorinya begitu, tapi di lapangan banyak teori tak sesuai kenyataan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span class="deskripsi"&gt;  &lt;/span&gt; &lt;p&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;Sejak tahun lalu selama di Madinah jamaah disediakan makan sebanyak dua kali sehari, pagi dan malam. Pagi hari sarapan datang sekitar pukul 09.00 sampai pukul 10.00. Dan makan malam datang setelah Shalat Magrib. Namun waktu datang makanan ini tak selalu tepat. Makan pagi kadang datang molor hingga pukul 14.00. Makan malam, ada yang baru datang pukul 21.00. Tak hanya soal waktu kedatangan, menunya pun kadang bikin keki. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span class="deskripsi"&gt; &lt;/span&gt; &lt;p&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;Bersiaplah untuk mendapat menu nasi, buncis, daging kambing, atau ayam berulang-ulang. Soal rasa, jangan tanya. Yang penting dimakan saja. Untuk jamaah ONH Plus, makanan sepertinya tak menjadi persoalan. Hanya saja kadang-kadang rasanya tak selalu cocok dengan dengan lidah orang Indonesia. Jadi jangan bayangkan soto selalu berasa soto seperti yang biasa dimakan di Tanah Air.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span class="deskripsi"&gt;  &lt;/span&gt; &lt;p&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;&lt;b&gt;Tips makan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;-bawa selalu makanan ringan&lt;br /&gt;-bawa makanan tahan lama&lt;br /&gt;-bagi yang masak sendiri lakukan dalam kelompok&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;&lt;a href="http://www.republika.co.id/Koran_detail.asp?id=226009&amp;amp;kat_id=394"&gt;source&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15907701-113461328377436323?l=hajimabrur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hajimabrur.blogspot.com/feeds/113461328377436323/comments/default' title='Publier les commentaires'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15907701&amp;postID=113461328377436323' title='0 commentaires'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15907701/posts/default/113461328377436323'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15907701/posts/default/113461328377436323'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hajimabrur.blogspot.com/2005/12/tips-makanan.html' title='Tips Makanan'/><author><name>upay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12306253052388235204</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://img.photobucket.com/albums/v189/upaysaleh/june2005.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15907701.post-113461126613931430</id><published>2005-12-15T08:44:00.000+07:00</published><updated>2005-12-15T08:47:46.316+07:00</updated><title type='text'>Haji dan Kemiskinan</title><content type='html'>&lt;span class="judul"&gt;Haji yang Memberdayakan &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;          &lt;span class="underdeck"&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;&lt;/span&gt; &lt;p&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;&lt;b&gt;Yusuf Wibisono&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Ketua Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI) Komisariat UI&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;Salah satu ibadah dalam Islam yang memiliki dampak ekonomi besar adalah ibadah haji. Dengan 200 ribu jamaah haji, di Indonesia, ritual ini mampu memobilisasi dana tak kurang dari Rp 6 triliun per tahun. Namun even ekonomi besar tahunan ini tak mampu memberi dampak yang signifikan pada kehidupan ekonomi umat. Sekian puluh tahun haji dilakukan, umat tetap terpuruk dalam kemiskinan. Kenyataan ironis ini memunculkan wacana yang semakin mengental untuk mereformasi penyelenggaraan ibadah haji.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;Secara umum, ketidak-mampuan haji menjadi kekuatan ekonomi umat disebabkan tiga faktor. &lt;i&gt;Pertama&lt;/i&gt;, kesalahan sistem yang menempatkan Departemen Agama (Depag) sebagai pemegang monopoli penyelenggara haji dengan menjalankan tiga peran sekaligus; sebagai regulator, operator, dan evaluator. Hal ini menimbulkan &lt;em&gt;conflict of interest&lt;/em&gt; dan jelas-jelas bertentangan dengan prinsip&lt;em&gt; good governance. &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;Kedua, dana haji masyarakat dikelola oleh Depag yang berada di ranah publik. Lembaga pemerintah hanya boleh mengelola dana negara untuk tujuan publik. Menjadi kesalahan fatal menempatkan institusi pemerintah mengelola dana masyarakat karena akan terjadi tabrakan tujuan antara pelayanan publik dan mengejar laba. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;Ketiga, tidak ada grand strategy dan political will yang kuat dari pemerintah untuk menjadikan haji sebagai pendorong kebangkitan ekonomi umat. Haji selama ini hanya dipandang sebagai ritual ibadah belaka yang tidak memiliki dampak ekonomi apapun. Paradigma ini seolah dilestarikan sehingga jamaah haji kita rela dengan pelayanan ibadah haji yang sangat buruk, walau telah membayar ongkos yang mahal. Haji pun tak pernah dihubungkan dengan aktivitas ekonomi umat lainnya. Tulisan berikut ini mencoba melihat potensi ekonomi haji secara keseluruhan dan peluang implementasi-nya di Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;&lt;strong&gt;Pembiayaan pembangunan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Lembaga Tabung Haji Indonesia (THI) menjadi usulan yang paling luas mengemuka untuk mengganti peran Depag. Mencontoh kisah sukses Malaysia dengan Tabung Haji Nasional Malaysia (THNM), THI diharapkan akan menjadi BUMN keuangan non-bank yang mengelola dana haji masyarakat secara profesional. THI ini akan menggantikan peran Depag sebagai operator penyelenggara haji. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;THI akan menerima pembayaran dana haji dengan memakai sistem tabungan, sehingga akan membantu setiap umat Islam untuk menunaikan haji secara terrencana dan dengan waktu yang lebih cepat. Hal ini tidak hanya membawa implikasi positif secara agama tetapi juga secara ekonomi. Dana tabungan haji yang disetor lebih awal, dapat diinvestasikan terlebih dahulu pada sektor usaha yang aman dan sesuai dengan ketentuan syariah. Dengan demikian, dana tabungan haji akan menjadi salah satu alternatif sumber pembiayaan pembangunan jangka panjang yang murah. Dana tabungan haji yang dikelola THI akan membebaskan dana-dana jangka pendek yang selama ini dipergunakan untuk pembiayaan pembangunan jangka panjang. Dana THI juga akan menambah volume kredit tanpa menambah uang beredar, sehingga akan memberi stimulus perekonomian dengan tetap menjaga stabilitas tingkat harga.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;Dalam kasus Indonesia --yang mengalami defisit anggaran, dana THI dapat dipergunakan untuk membeli BUMN yang diprivatisasi pemerintah, khususnya BUMN strategis seperti Indosat dan PT Dirgantara Indonesia. Dengan demikian, kemanfaatan dana THI menjadi berlipat ganda, yaitu mengembangkan dana dalam bentuk investasi dan sekaligus mempertahankan aset penting negara.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;&lt;strong&gt;Haji dan LKS&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dalam mengelola dana tabungan haji, selain dituntut profesional, THI juga harus sesuai dengan tuntunan syariah. Tidak boleh ada pengelolaan dana haji yang terkait dengan riba, gharar, maysir, dan hal-hal yang bathil. Maka dalam operasional-nya, THI akan selalu berhubungan dengan lembaga keuangan syariah (LKS), baik perbankan syariah, asuransi syariah, maupun lembaga investasi syariah lainnya. Menjadi ironis bila selama ini dana haji dikelola oleh lembaga keuangan konvensional.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;Jika hal ini dapat dilaksanakan, maka dampaknya terhadap perkembangan LKS akan sangat besar. Sebagai misal, hingga November 2004, dana yang berhasil dihimpun oleh perbankan syariah baru mencapai Rp 10,5 triliun. Bayangkan bila dana Rp 6 triliun dapat sepenuhnya dikelola di dalam bank syariah, tentu akan terjadi penambahan dana yang luar biasa bagi perbankan syariah. Dengan mobilisasi dana LKS yang semakin besar, maka dampaknya terhadap perekonomian akan semakin positif, yaitu dinamisasi sektor riil terutama usaha kecil menengah (UKM), stabilitas sektor keuangan, dan stabilitas tingkat harga.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;Penyelenggaraan ibadah haji banyak melibatkan berbagai komponen yang memiliki nilai ekonomi besar, sehingga berpotensi menciptakan lahan bisnis yang sangat menggiurkan. Mulai dari transportasi dari Tanah Air ke Tanah Suci, pemondokan, katering, hingga bisnis kelompok bimbingan ibadah haji (KBIH). Untuk aspek-aspek pelaksanaan haji inilah perhatian Depag banyak tercurah. Dengan posisi monopoli yang menempatkannnya sebagai ''biro perjalanan haji terbesar di dunia'', Depag telah membuat haji sebagai arena perburuan rente ekonomi tahunan oleh birokrasi dan para kroni-nya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;Aroma bisnis yang kental di tangan satu pihak inilah yang selama ini menjadi arena KKN yang sangat subur. Terlebih dengan akumulasi sisa dana haji yang dilegalkan menjadi dana abadi umat (DAU), telah membuka praktik politik uang --tidak hanya di lingkungan Depag tetapi juga telah menyebar ke lingkaran kekuasaan lainnya. Hal ini tentu memprihatinkan, karena ibadah haji yang suci justru menjadi sumber praktik bisnis dan politik tidak terpuji. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;Dengan pendirian THI, maka THI akan menggantikan peran pelaksana ibadah haji yang selama ini dilakukan Depag. Dengan demikian, Depag akan bisa lebih fokus pada fungsi regulasi dan pengawasan yang selama ini terabaikan. Untuk memacu efisiensi, THI tidak boleh melakukan monopoli. THI harus dihadapkan pada persaingan sehat dengan menempatkan biro perjalanan haji swasta sebagai pelaksana haji pendamping. Dengan demikian, jamaah akan mendapat pelayanan prima dengan ongkos yang murah. Pada saat yang sama, peran sektor swasta teroptimalkan sehingga akan menggerakkan sektor riil.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;&lt;strong&gt;Haji dan kemiskinan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dari sisi agama, salah satu permasalahan dalam ibadah haji, adalah haji ulang; yaitu mereka yang melaksanakan haji untuk yang kedua kali dan seterusnya. Secara formal, haji ulang adalah sunnah. Namun dalam perspektif kontemporer, sangat mungkin haji ulang bukan lagi sunnah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;Di Indonesia, kemiskinan adalah luas dan persisten. Kemiskinan adalah sumber dari semua permasalahan sosial-kemasyarakatan seperti kriminalitas, penurunan kualitas hubungan sosial, kenakalan remaja, anak-anak telantar, hingga penyalahgunaan obat terlarang. Maka di dalam Islam, menyantuni fakir miskin adalah maslahah yang bersifat qath'i, karena secara jelas disebut Alquran berulang kali. Dalam perspektif ini, tentu lebih baik untuk mengentaskan kemiskinan yang bersifat wajib daripada mendahulukan haji ulang yang hanya sunnah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;Maka THI dapat menyosialisakan kepada mereka yang hendak haji ulang agar mengurungkan niatnya, karena dalam kasus Indonesia di mana kemiskinan dan masalah sosial ummat Islam lainnya yang bersifat wajib masih sangat banyak haji ulang sangat mungkin tidak lagi bernilai sunnah. Pada saat yang sama, mereka diimbau untuk menyerahkan dana haji ulang ke THI atau LSM untuk program pengentasan kemiskinan. Jika haji ulang tidak bisa dicegah, setidaknya harus ada disinsentif. Sebagai misal, bagi mereka yang ingin haji ulang diharuskan membayar setoran tabungan secara penuh di awal, namun dengan keberangkatan 4-5 tahun kemudian. Sehingga dana haji ulang ini akan tertahan lama di THI dan akan menjadi dana murah yang dapat dipergunakan untuk investasi jangka panjang, khususnya yang terkait dengan program pengentasan kemiskinan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;&lt;a href="http://www.republika.co.id/Koran_detail.asp?id=225795&amp;amp;kat_id=16"&gt;source&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15907701-113461126613931430?l=hajimabrur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hajimabrur.blogspot.com/feeds/113461126613931430/comments/default' title='Publier les commentaires'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15907701&amp;postID=113461126613931430' title='0 commentaires'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15907701/posts/default/113461126613931430'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15907701/posts/default/113461126613931430'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hajimabrur.blogspot.com/2005/12/haji-dan-kemiskinan.html' title='Haji dan Kemiskinan'/><author><name>upay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12306253052388235204</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://img.photobucket.com/albums/v189/upaysaleh/june2005.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15907701.post-113461102158807959</id><published>2005-12-15T08:38:00.000+07:00</published><updated>2005-12-15T08:43:41.603+07:00</updated><title type='text'>Tips Haji : Sabar ..</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;Sabar, sabar, dan sabar. Itu tiga nasihat yang sering diberikan pembimbing kepada calon jamaah haji sebelum berangkat Tanah Suci.Pada kenyataannya memang calon jamaah haji harus punya persediaan segunung kesabaran untuk menghadapi keadaan yang sering di luar perkiraan semula.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span class="deskripsi"&gt;  &lt;/span&gt; &lt;p&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;Kesabaran calon jamaah sudah diuji saat berada di asrama haji atau bahkan saat keberangkatan. Kemacetan menuju asrama, pemeriksaan yang bertele-tele, sulitnya bertemu dengan keluarga sangat mungkin terjadi. Pemeriksaan dokumen kadang memerlukan waktu berjam-jam. Makanan di asrama belum tentu sesuai selera. Belum lagi kadang barang-barng yang masih diperlukan di asrama sudah telanjur masuk dalam koper besar.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span class="deskripsi"&gt;  &lt;/span&gt; &lt;p&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;Di bandara, sering pula rencana perjalanan tak sesuai yang diharapkan. Bis kadang datang terlambat, macet di jalan, atau bahkan tak dapat tempat duduk. Masih untung kalau pesawat tak terlambat. Yang terjadi sering jamaah harus menunggu pesawat berjam-jam. Setelah pesawat mengudara, tak berarti kemungkinan kondisi di luar dugaan tak terjadi. Tahun lalu, beberapa pesawat kembali ke landasan setelah mengudara karena ada kesulitan teknis. Ada pula kejadian, seluruh jamaah yang sudah menunggu di dalam pesawat kembali turun karena pesawat mengalami kerusakan. Kemungkinan lain, pesawat sudah mengudara beberapa lama, namun harus mendarat sementara di suatu bandara karena ada kesulitan teknis.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span class="deskripsi"&gt;  &lt;/span&gt; &lt;p&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;Saat mendarat di Jeddah atau Madinah, kesabaran jamaah kembali diuji. Pemeriksaan di imigrasi bisa cepat tapi juga bisa berjam-jam. Jamaah harus berdiri sambil menenteng tas memasuki pos demi pos. Belum lagi menghadapi para petugas yang sepertinya tak menghargai tamu-tamu Allah. Mencari koper juga memerlukan perjuangan yang tak kalah beratnya. Para jamaah harus mencari sendiri kopernya di tengah ratusan koper jamaah lainnya yang sama bentuk, ukuran, dan warnanya. Kadang koper dipaksa oleh petugas untuk dibuka dan disuruh mengelurkan isinya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span class="deskripsi"&gt;  &lt;/span&gt; &lt;p&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;Lepas dari keruwetan di Jeddah, hal tak terduga lain siap menunggu. Perjalanan Jeddah-Madinah yang sekitar 4.500 Km biasanya ditempuh dalam waktu sekitar lima jam. Untuk haji biasa, jamaah akan berhenti di Wadi Qudaid untuk makan. Yang terjadi sering si sopir tak berhenti di lokasi itu. Berhentinya di lokasi lain sehingga jamaah harus bayar ketika makan. Atau yang tak makan terpaksa menahan lapar di dalam bis dalam cuaca yang dingin.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span class="deskripsi"&gt;  &lt;/span&gt; &lt;p&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;Tak jarang pula sopir-sopir yang membawa jamaah haji mogok, tak mau berangkat sebelum jamaah memberi tips. Masih untung kalau tibanya tepat waktu, tak jarang sopir berputar-putar karena tak tahu jalan. Sedangkan komunikasi dengan sopir tak bisa berjalan karena mereka tak bisa bahasa Inggris.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span class="deskripsi"&gt;  &lt;/span&gt; &lt;p&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;Di Madinah, jamaah sering &lt;i&gt;shock&lt;/i&gt; dengan makanan yang disediakan. Sejak tahun lalu, selama di Madinah jamaah disediakan makan. Tapi bersiaplah menghadapi kemungkinan makan datang terlambat, sudah basi, atau tak sesuai dengan selera. Kondisi penginapan juga bisa membuat jamaah geram. Kadang, bangunan empat lantai tapi tak dilengkapi lift. Ada juga yang tempat tidurnya hanya dipan, atau pintu dan jendelanya tak bisa dikunci dengan benar. Lebih kesal lagi kalau membanding-bandingkan dengan jamaah lain. Bayarnya sama &lt;i&gt;kok&lt;/i&gt; ada yang dekat masjid dan bagus dan ada yang satu kilometer dari masjid dengan kondisi parah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span class="deskripsi"&gt;  &lt;/span&gt; &lt;p&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;Padatnya Makkah pada puncak musim haji kalau tak disikapi dengan sabar, bisa membuat jamaah stres. Segala kemungkinan yang tak diduga bisa saja terjadi. Untuk masuk ke Masjidil Haram saja membutuhkan perjuangan yang berat. Terlambat satu jam dari waktu shalat tak bisa masuk ke dalam. Untuk antre keluar masjid bisa berjalan bersingsut selama satu jam. Belum lagi soal penginapan, makanan, jadwal, dan problem kesehatan yang biasanya sudah mulai muncul.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span class="deskripsi"&gt;  &lt;/span&gt; &lt;p&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;Saat wukuf di Arafah juga sering tak sesuai rencana. Yang banyak terjadi adalah kendaraan terjebak berjam-jam sehingga terlambat masuk di Arafah. Sekembali dari Arafah menuju ke Mina, bersiapkan menghadapi kemungkinan kendaran tak bisa berhenti di Muzdalifah karena saking padatntya jalan. Padahal dalam ritual haji, bermalam sebentar di Muzdalifah merupakan keharusan. Terjebak di bis dalam kondisi panas dan kesal karena tak bisa ke Muzdalifah sering menimpa jamaah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span class="deskripsi"&gt;  &lt;/span&gt; &lt;p&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;Saat melempar jumrah bersiapkan dengan kemungkinan hilang dari rombongan, kelelahan yang sangat dan berdesak-desakan. Kemungkinan lain yang banyak terjadi adalah jamaah tersesat tak tahu di mana letak tendanya. Menjelang pulang ke Tanah Air jamah juga masih akan menghadapi kondisi yang tak sesuai rencana. Tahun-tahun lalu banyak jamaah ONH plus yang terkatung-katung di bandara atau tak dapat tempat menginap di Jeddah. Menjelang naik pesawat jamaah juga tak jarang harus menahan sabar menghadapi kondisi penerbangan haji yang sangat tidak bisa diprediksi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span class="deskripsi"&gt;  &lt;/span&gt; &lt;p&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;Siapkan diri Anda menghadapi kondisi apa pun yang terjadi di Tanah Suci nanti. Untuk menghilangkan kejenuhan lebih baik membaca-baca buku panduan haji atau memperbanyak berdoa. Fokuslah pada ibadah haji yang sedang dilakukan. Anggap saja semua hal yang terjadi yang tak diiginkan itu sebagai ujian. Menggerutu dan menyesali keadaan tak banyak membantu. Yang terbaik sekali lagi adalah sabar, sabar, dan sabar.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;a href="http://www.republika.co.id/Koran_detail.asp?id=225827&amp;amp;kat_id=394"&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;source&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15907701-113461102158807959?l=hajimabrur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hajimabrur.blogspot.com/feeds/113461102158807959/comments/default' title='Publier les commentaires'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15907701&amp;postID=113461102158807959' title='0 commentaires'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15907701/posts/default/113461102158807959'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15907701/posts/default/113461102158807959'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hajimabrur.blogspot.com/2005/12/tips-haji-sabar.html' title='Tips Haji : Sabar ..'/><author><name>upay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12306253052388235204</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://img.photobucket.com/albums/v189/upaysaleh/june2005.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15907701.post-113402818248884711</id><published>2005-12-08T14:32:00.000+07:00</published><updated>2005-12-08T14:49:42.500+07:00</updated><title type='text'>10 Godaan Setan Saat Sholat</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"&gt;1)WAS WAS SAAT MELAKUKAN TAKBRATUL IHRAM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnul Qayyim berkata, "Termasuk tipu daya syetan yang&lt;br /&gt;banyak menggangu mereka adalah was-was dalam bersuci&lt;br /&gt;(berwudhu) dan niat atau saat takbiratul ihram dalam&lt;br /&gt;shalat".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2)TIDAK KONSENTRASI SAAT MEMBACA BACAAN SHALAT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sahabat Rasulullah SAW yaitu 'Utsman bin Abil 'Ash&lt;br /&gt;datang kepada Rasulullah dan mengadu, "Wahai&lt;br /&gt;Rasulullah, sesungguhnya syetan telah hadir dalam&lt;br /&gt;shalatku dan membuat bacaanku salah dan rancu".&lt;br /&gt;Rasulullah SAW menjawab, "Itulah syetan yang disebut&lt;br /&gt;dengan Khinzib. Apabila kamu merasakan kehadirannya,&lt;br /&gt;maka meludahlah ke kiri tiga kali dan berlindunglah&lt;br /&gt;kepada Allah SWT. Akupun melakukan hal itu dan Allah&lt;br /&gt;SWT menghilangkan gangguan itu dariku" (HR. Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3)LUPA JUMLAH RAKAAT YANG TELAH DIKERJAKAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Hurairah r.a berkata, "Sesungguhnya Rasulullah SAW&lt;br /&gt;telah bersabda, "Jika salah seorang dari kalian&lt;br /&gt;shalat, syetan akan datang kepadanya untuk menggodanya&lt;br /&gt;sampai ia tidak tahu berapa rakaat yang ia telah&lt;br /&gt;kerjakan. Apabila salah seorang dari kalian mengalami&lt;br /&gt;hal itu, hendaklah ia sujud dua kali (sujud sahwi)&lt;br /&gt;saat ia masih duduk dan sebelum salam, setelah itu&lt;br /&gt;baru mengucapkan salam" (HR Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4)HADIRNYA PIKIRAN YANG MEMALINGKAN KONSENTRASI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Hurairah r.a berkata, "Rasulullah SAW bersabda,&lt;br /&gt;"Apabila dikumandangkan adzan shalat, syetan akan&lt;br /&gt;berlari seraya terkentut-kentut sampai ia tidak&lt;br /&gt;mendengar suara adzan tersebut. Apabila muadzin telah&lt;br /&gt;selesai adzan, ia kembali lagi. Dan jika iqamat&lt;br /&gt;dikumandangkan ia berlari. Apabila telah selesai&lt;br /&gt;iqamat, dia kembali lagi. Ia akan selalu bersama orang&lt;br /&gt;yang shalat seraya berkata kepadanya, ingatlah apa&lt;br /&gt;yang tadinya tidak kamu ingat! Sehingga orang tersebut&lt;br /&gt;tidak tahu berapa rakaat ia shalat" (HR Bukhari)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5) TERGESA-GESA UNTUK MENYELESAIKAN SHALAT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada zaman Rasulullah SAW ada orang shalat dengan&lt;br /&gt;tergesa-gesa. Akhirnya Rasulullah SAW memerintahkannya&lt;br /&gt;untuk mengulanginya lagi karena shalat yang telah ia&lt;br /&gt;kerjakan belum sah. Rasulullah SAW bersabda kepadanya,&lt;br /&gt;"Apabila kamu shalat, bertakbirlah (takbiratul ihram).&lt;br /&gt;Lalu bacalah dari Al-Qur'an yang mudah bagimu, lalu&lt;br /&gt;ruku'lah sampai kamu benar-benar ruku' (thuma'ninah),&lt;br /&gt;lalu bangkitlah dari ruku' sampai kamu tegak berdiri,&lt;br /&gt;kemudian sujudlah sampai kamu benar-benar sujud&lt;br /&gt;(thuma'ninah) dan lakukanlah hal itu dalam setiap&lt;br /&gt;rakaat shalatmu" (HR Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6) MELAKUKAN GERAKAN-GERAKAN YANG TIDAK PERLU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dahulu ada seorang sahabat yang bermain kerikil ketika&lt;br /&gt;sedang tasyahud. Ia membolak-balikkannya. Melihat hal&lt;br /&gt;itu, maka Ibnu Umar segera menegurnya selepas shalat.&lt;br /&gt;"Jangan bermain kerikil ketika shalat karena perbuatan&lt;br /&gt;tersebut berasal dari syetan. Tapi kerjakan seperti&lt;br /&gt;apa yang dikerjakan Rasulullah SAW". Orang tersebut&lt;br /&gt;bertanya, "Apa yang dilakukannya?" Kemudian Ibnu Umar&lt;br /&gt;meletakkan tangan kanannya diatas paha kanannya dengan&lt;br /&gt;jari telunjuk menunjuk ke arah kiblat atau tempat&lt;br /&gt;sujud. "Demikianlah saya melihat apa yang dilakukan&lt;br /&gt;Rasulullah SAW" kata Ibnu Umar (HR Tirmidzi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7)MENENGOK KE KANAN ATAU KE KIRI KETIKA SHALAT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah r.a,&lt;br /&gt;ia berkata, "Saya bertanya kepada Rasulullah SAW&lt;br /&gt;tentang hukum menengok ketika shalat". Rasulullah SAW&lt;br /&gt;menjawab, "Itu adalah curian syetan atas shalat&lt;br /&gt;seorang hamba" (HR Bukhari)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8)MENGUAP DAN MENGANTUK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah SAW bersabda, "Menguap ketika shalat itu&lt;br /&gt;dari syetan. Karena itu bila kalian ingin menguap maka&lt;br /&gt;tahanlah sebisa mungkin" (HR Thabrani). Dalam riwayat&lt;br /&gt;lain Rasulullah SAW bersabda, "Adapun menguap itu&lt;br /&gt;datangnya dari syetan, maka hendaklah seseorang&lt;br /&gt;mencegahnya (menahannya) selagi bisa. Apabila ia&lt;br /&gt;berkata ha... berarti syetan tertawa dalam mulutnya"&lt;br /&gt;(HR Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9)BERSIN BERULANG KALI SAAT SHALAT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syetan ingin menggangu kekhusyu'an shalat dengan&lt;br /&gt;bersin sebagaimana yang dikatakan Abdullah bin Mas'ud,&lt;br /&gt;"Menguap dan bersin dalam shalat itu dari syetan"&lt;br /&gt;(Riwayat Thabrani). Ibnu Hajar mengomentari pernyataan&lt;br /&gt;Ibnu Mas'ud, "Bersin yang tidak disenangi Allah SWT&lt;br /&gt;adalah yang terjadi dalam shalat sedangkan bersin di&lt;br /&gt;luar shalat itu tetap disenangi Allah SWT. Hal itu&lt;br /&gt;tidak lain karena syetan memang ingin menggangu shalat&lt;br /&gt;seseorang dengan berbagai cara"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10)TERASA INGIN BUANG ANGIN ATAU BUANG AIR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah SAW bersabda, "Apabila salah seorang dari&lt;br /&gt;kalian bimbang atas apa yang dirasakan di perutnya&lt;br /&gt;apakah telah keluar sesuatu darinya atau tidak, maka&lt;br /&gt;janganlah sekali-kali ia keluar dari masjid sampai ia&lt;br /&gt;yakin telah mendengar suara (keluarnya angin) atau&lt;br /&gt;mencium baunya" (HR Muslim)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15907701-113402818248884711?l=hajimabrur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hajimabrur.blogspot.com/feeds/113402818248884711/comments/default' title='Publier les commentaires'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15907701&amp;postID=113402818248884711' title='0 commentaires'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15907701/posts/default/113402818248884711'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15907701/posts/default/113402818248884711'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hajimabrur.blogspot.com/2005/12/10-godaan-setan-saat-sholat.html' title='10 Godaan Setan Saat Sholat'/><author><name>upay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12306253052388235204</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://img.photobucket.com/albums/v189/upaysaleh/june2005.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15907701.post-112528194477471561</id><published>2005-08-29T09:17:00.000+07:00</published><updated>2005-08-29T09:19:04.783+07:00</updated><title type='text'>Mengejar Mabrur dengan Bekal ''Kurma''</title><content type='html'>&lt;span style="color: rgb(255, 102, 0);" class="judul"&gt;Mengejar Mabrur dengan Bekal ''Kurma'' &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Setiap orang yang melaksanakan ibadah haji pasti ingin meraih gelar haji  mabrur. Sebab, seperti dijanjikan Rasulullah, ''Orang yang mendapatkan haji  mabrur, tiada balasan yang lebih baik baginya, kecuali surga''. Tidak mudah  untuk mencapai mabrur, yang merupakan puncak prestasi ibadah haji seseorang.  Namun, ada ikhtiar yang bisa dilakukan untuk merengkuhnya. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Menurut Mardjoto Fahruri, sekretaris Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia  (IPHI) Boyolali, Jawa Tengah, menunaikan ibadah haji perlu membawa bekal  ''kurma'' (bahasa Jawa: dibaca ''kurmo''). Apa maksudnya? ''Kalau mendapatkan  kenikmatan kita harus selalu bersyukur, kalau menghadapi kesulitan atau cobaan  kita harus &lt;i&gt;nrimo&lt;/i&gt; atau ikhlas. Dengan modal 'kurma' itu, insya Allah kita  akan mendapatkan gelar mabrur,'' katanya. Fahruri menjelaskan, orang yang  menunaikan ibadah haji itu adalah orang yang dipanggil Allah atau tamu Allah.  ''Sebagai tamu Allah, ia harus mempunyai bekal yang disebut 'kurma', yakni  syukur dan &lt;i&gt;nrimo&lt;/i&gt;,'' kata Pimpinan Kelompok Pengajian Bani Adam  Boyolali.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Lebih jauh, Fahruri mengatakan, syukur dan &lt;i&gt;nrimo&lt;/i&gt; itu merupakan modal  hidup yang utama. ''Kalau seorang jamaah haji selalu syukur dan &lt;i&gt;nrimo&lt;/i&gt;  selama menunaikan ibadah haji di Tanah Suci maupun setelah berada kembali di  Tanah Air, insya Allah hidupnya akan selamat dan penuh berkah. Apa pun yang  terjadi, ia mampu menerimanya dengan ikhlas. Sebab ia yakin, semua itu merupakan  kehendak Allah SWT,'' tandasnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Meskipun demikian, Fahruri menegaskan, syariah harus tetap ditempuh dengan  sebaik mungkin sesuai dengan prosedur dan manajemen yang benar. ''Dari segi  jamaah haji maupun umrah, penting untuk selalu syukur dan &lt;i&gt;nrimo&lt;/i&gt;. Namun  dari segi penyelenggara, pemerintah maupun travel haji/umrah dan Kelompok  Bimbingan Ibadah Haji (KBIH), harus melaksanakan segala sesuatunya dengan  sebaik-baiknya. Hal yang perlu diingat, jamaah haji itu merupakan tamu Allah.  Karena itu harus diperlakukan dengan sebaik mungkin sebagaimana layaknya tamu  Allah,'' ujarnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Hal yang sama juga diungkapkan oleh Drs H Ahmad Anas MAg, ketua Yayasan  Riyadhul Jannah, Semarang. Menurut Anas, selain mengetahui dan memahami tentang  tata cara dan makna ibadah haji, hendaknya calon jamaah haji menanamkan  nilai-nilai keikhlasan dan kesabaran sejak dini. Sebab, kata dia, banyak  peristiwa yang terjadi di Tanah Suci berada di luar jangkauan akal  manusia.''Jika kita ikhlas dalam melaksanakan ibadah, niscaya Allah akan  memberikan kemudahan bagi kita dalam menunaikan perintah-Nya,'' jelas Pembimbing  jamaah haji Travel Razek ini. Suami Hj Siti Alfiaturohmaniah ini menambahkan,  keikhlasan dan kesabaran menjadi kunci sukses untuk menggapai predikat haji  mabrur. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;b&gt;Mampu&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;H Ma'mun Efendi Nur, Lc, MA, PhD, staf pengajar IAIN  Walisongo Semarang mengatakan, salah satu syarat mutlak yang harus dimiliki  seorang calon jamaah haji untuk menunaikan ibadah haji adalah &lt;i&gt;istitho'ah&lt;/i&gt;  (mampu). Artinya, seorang calon jamaah haji harus memiliki kemampuan, baik  kemampuan akan harta benda untuk menunaikan ibadah haji dan untuk keluarga yang  ditinggalkan, maupun kemampuan fisik (sehat jasmani dan rohani).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Di samping dua kemampuan di atas, kemampuan lainnya yang juga memiliki  peranan penting dalam melaksanakan ibadah haji adalah kesiapan ilmu pengetahuan  akan ibadah haji, misalnya makna dan spiritualitas haji, tata cara (manasik) dan  lainnya. Faktor kemampuan ilmu pengetahuan tentang ibadah haji ini, sangat  penting artinya untuk kesempurnaan ibadah haji (sesuai syarat dan rukunnya)  dalam menggapai haji mabrur. Tentu saja, pengetahuan tersebut meliputi banyak  hal, sejak proses pendaftaran, pembayaran ONH, perlengkapan dokumen, pengetahuan  sejarah haji, serta proses perjalanan dan makna ritual yang terkandung dalam  ibadah haji. Proses pembimbingan dan pembinaan haji itulah yang disebut dengan  bimbingan manasik haji.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Untuk mempersiapkan itu semua, tidaklah cukup waktu satu hingga tiga bulan  sejak dari proses pendaftaran hingga pemberangkatan calon haji ke Tanah Suci.  Maka untuk mempersiapkan pengetahuan yang mendalam, setidaknya seorang calon  haji bisa mempersiapkan jauh sebelum dirinya berangkat menunaikan rukun Islam  yang kelima ini. Ma'mun mengatakan, waktu manasik yang diberikan selama tiga  bulan itu terlalu singkat. ''Minimal seorang calon haji harus mempersiapkan diri  setahun sebelum ia berangkat ibadah haji,'' kata alumnus Universitas Ummul Qura  Madinah kepada &lt;i&gt;Republika.&lt;/i&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ia menambahkan, pengetahuan dan pemahaman akan makna dan tata cara ibadah  haji sangat penting artinya bagi calon haji dalam menunaikan rukun Islam yang  kelima. Sebab, tanpa pengetahuan dan pemahaman tentang itu, maka ibadah haji  tersebut hanya menjadi ibadah rutinitas yang jauh dari nilai-nilai kesempurnaan.  ''Jangan sampai, ketika menjadi tamu, tidak mengetahui apa yang akan disampaikan  kepada tuan rumah,'' ujar Ma'mun berfilsafat. Pria yang lama bermukim di Tanah  Suci itu mengungkapkan, jamaah haji dari Malaysia rata-rata mendapatkan  pembekalan dan pengetahuan ibadah haji, jauh hari sebelum melaksanakan ibadah  haji. ''Ada yang berguru khusus kepada para ustadz, ada pula yang mempelajari  buku-buku tentang haji. Jadi, mereka tidak mendadak mendapatkan pengetahuan  tentang tata cara beribadah haji tersebut,'' tutur Ma'mun.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Presiden Direktur PT Nur Rima Al-Waali, Hj Irmawati Asrul SE mengatakan,  kemampuan &lt;i&gt;(istithoah)&lt;/i&gt; yang dimaksudkan oleh Alquran dalam ibadah haji  adalah kemampuan harta benda, ilmu pengetahuan, dan kemampuan fisik. '"Dengan  memiliki kemampuan seperti ini, Insya Allah ibadah haji akan diterima Allah  SWt,'' kata Hj Irma. Pengurus Pusat Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI)  itu menambahkan, selain kemampuan di atas, sebaiknya seorang calon haji juga  dibekali dengan niat yang tulus dan ikhlas dalam menjalani segala sesuatu.  Sebab, ungkapnya, perjalanan haji untuk menggapai predikat haji mabrur,  membutuhkan perjuangan yang maksimal. ''Apalagi, jalannya begitu terjal dan  banyak godaan yang siap menghalangi upaya kita untuk beribadah,'' jelasnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ia menyebutkan, godaan dan halangan yang biasa dialami oleh jamaah haji saat  melaksanakan haji adalah berkata-kata yang kasar, ketus, suka iri dengan urusan  orang dan senang menggunjingkan orang lain. Padahal, kata dia, Allah telah  menegaskan, bahwa seorang jamaah haji dilarang berkata-kata &lt;i&gt;rafats&lt;/i&gt;  (berkata jorok/porno), &lt;i&gt;fusuq&lt;/i&gt; (fasik, berkata kasar), dan &lt;i&gt;jidaal&lt;/i&gt;  (menggunjing) selama melaksanakan ibadah haji. ''Tanpa keikhlasan dan kesabaran,  niscaya kita akan sering terpeleset untuk berbuat yang dilarang Allah,''  tegasnya. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;b&gt;Tips Haji Mabrur&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Apa saja langkah-langkah praktis yang perlu dilakukan oleh seorang calon  jamaah haji agar bisa meraih mabrur saat berhaji? Berikut ini tips yang  diberikan oleh Ustad Mardjoto Fahruri, sekretaris Ikatan Persaudaraan Haji  Indonesia (IPHI), Boyolali, yang juga Pengasuh Kelompok Pengajian Bani Adam,  Boyolali, Jawa Tengah.&lt;br /&gt;* Tobat kepada Allah sebelum pergi berhaji maupun  selama menunaikan ibadah haji.&lt;br /&gt;* Gemar berinfak, dalam keadaaan lapang maupun  sempit. Baik dengan tenaga, ilmu maupun harta.&lt;br /&gt;* Menahan marah&lt;br /&gt;* Memaafkan  kesalahan orang lain, sebelum orang tersebut memohon maaf&lt;br /&gt;* Senang berbuat  baik. Perbuatan kita tidak boleh merugikan orang lain. Bahkan kalau bisa  menguntungkan orang lain alias &lt;i&gt;muhsin&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;a href="http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=208884&amp;amp;kat_id=301"&gt;source&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15907701-112528194477471561?l=hajimabrur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hajimabrur.blogspot.com/feeds/112528194477471561/comments/default' title='Publier les commentaires'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15907701&amp;postID=112528194477471561' title='0 commentaires'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15907701/posts/default/112528194477471561'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15907701/posts/default/112528194477471561'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hajimabrur.blogspot.com/2005/08/mengejar-mabrur-dengan-bekal-kurma.html' title='Mengejar Mabrur dengan Bekal &apos;&apos;Kurma&apos;&apos;'/><author><name>upay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12306253052388235204</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://img.photobucket.com/albums/v189/upaysaleh/june2005.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15907701.post-112528178101145849</id><published>2005-08-29T09:15:00.000+07:00</published><updated>2005-08-29T09:44:00.153+07:00</updated><title type='text'>Meraih Haji Mabrur dengan Bekal Takwa</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 102, 0);font-size:100%;" &gt;Meraih Haji Mabrur dengan Bekal Takwa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;Oleh: Ahmad Kusyairi Suhail MA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi. Barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan seasungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal” (QS Al Baqarah (2): 197).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu bentuk kasih sayang dan karunia Allah SWT terhadap para hamba-Nya adalah dijadikan bagi mereka musim-musim kebaikan (Mawaasimu”l Khair) guna meningkatkan kesempurnaan kemanusiaannya serta meraih derajat yang tinggi di sisi Allah SWT. Setelah Ramadhan, kini kita tengah memasuki musim kebaikan yang lain, yaitu musim haji. Di dalam musim ini ada sepuluh hari pertama Dzulhijjah yang merupakan hari-hari sangat mulia sebagaimana disabdakan Rasulullah SAW:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak ada hari di mana amal shalih di dalamnya lebih dicintai oleh Allah daripada sepuluh hari (Dzhulhijjah) ini.” Lalu para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, tidak tertandingi oleh jihad fi sabilillah sekalipun”! Beliau menjawab, “(Ya), tidak tertandingi oleh jihad fi sabilillah sekalipun, kecuali orang yang keluar (berjihad) dengan jiwa raga dan hartanya, lalu ia tidak kembali dengan apa pun (yakni mati syahid).” HR Bukhari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu terbuka peluang bagi siapa saja, jama”ah haji maupun bukan, untuk merengguk pahala ini dengan memanfaatkan musim kebajikan ini secara maksimal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Miqat Zamani Haji&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Secara zhahir tampak dari ayat di atas bahwa ibadah haji itu memiliki waktu tertentu, yang dalam terminologi fiqih dikenal dengan Miqat Zamani. Waktunya adalah beberapa bulan yang dimaklumi, yaitu bulan Syawal, Dzulqo”dah dan sepuluh hari pertama Dzulhijjah. Karenanya, tidak sah berihram untuk haji kecuali di dalam bulan-bulan yang dimaklumi ini. Inilah pendapat yang rajih (kuat) dalam pandangan banyak ulama”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat ini didukung oleh Ibnu Abbas RA, Jabir RA, Atha”, Thawus, Mujahid dan Imam Asy Syafi,i “rahimahumullah-. Meskipun Imam Malik, Abu Hanifah, Ahmad bin Hanbal, Ishaq bin Raahawaih, Ibrahim An Nakha”i, Ats Tsauri dan Al Laits bin Sa”ad “rahimahumullah- berpendapat bahwa berihram untuk haji sepanjang tahun (kapan saja) sah. Hanya saja akan lebih sempurna dan tidak sampai batal jika berihram untuk haji di bulan-bulan tersebut. Hal ini berdasarkan firman Allah SWT:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah, “Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadah) haji” QS Al Baqarah (2): 189. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir I/211-212).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tiga Hal yang Mengotori Kemabruran Haji&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Orang yang dipilih Allah SWT dari ratusan juta kaum muslimin untuk menunaikan ibadah haji adalah orang yang sangat beruntung. Beragam keistimewaan dan keutamaan yang berpuncak pada surga yang menantinya jika ia meraih haji mabrur. Namun, ujian dan cobaan yang mengotori kemabruran hajinya juga tidak sedikit. Dari sekian banyak ujian, ada 3 (tiga) hal yang disebut dalam ayat di atas yang perlu senantiasa diwaspadai oleh jama”ah haji, yaitu rafats, fusuq dan jidal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya kemunkaran dan hal-hal negatif selama musim haji di tanah suci cukup banyak. Sehingga tidak benar, persepsi sebagian orang bahwa Tanah Suci sepi dari kemaksiatan dan kemunkaran. Ketika Al Qur”an hanya menyebut tiga hal negatif tersebut, hal ini memberikan pemahaman kepada kita bahwasanya peluang untuk melakukan ketiga perbuatan negatif itu dalam “muktamar” yang dihadiri jutaan kaum muslimin sedunia dengan beragam warna kulit, bentuk fisik, suku, ras, bahasa dan adat amatlah besar. Sehingga tidak berlebihan jika ada yang berkomentar, bahwa setiap jama”ah haji berpotensi untuk berbuat rafats, fusuq dan jidal, baik pra haji, di tengah penunaian berbagai manasik (ritual) haji maupun pasca haji, menjelang kepulangannya ke tanah air misalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Jarir dalam kitab Tafsirnya (II/273-279) secara panjang lebar menghadirkan penafsiran para ulama tentang “rafats” yang dapat disimpulkan, bahwa “rafats” adalah jima” (bersetubuh) dan permulaan-permulaannya seperti bercumbu serta perkataan yang menimbulkan birahi. Lalu “fusuq” adalah semua bentuk maksiat dan larangan-larangan bagi orang yang berihram. Sedangkan “jidal” adalah berbantah-bantahan, saling panggil memanggil dengan gelar yang buruk dan debat kusir seperti saling mengklaim bahwa apa dilakukan paling baik/benar dan semua perbuatan yang memicu konflik, kedengkian dan permusuhan. Ketiga hal ini diberi penekanan khusus untuk dijauhi, karena Allah SWT menginginkan jama”ah haji untuk melepaskan diri dari segala gemerlap dunia dan tipu dayanya, serta mensucikan diri dari segala dosa dan keburukan. Sehingga terwujudlah tujuan yang diinginkan dari ibadah haji yaitu Tahdzib An Nafs (pensucian jiwa) dan mengarahkannya secara total untuk beribadah kepada Allah SWT semata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan hanya jama”ah haji yang mampu menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan negatif tersebutlah yang diibaratkan Nabi SAW seperti bayi yang baru lahir ke dunia tanpa dosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang menunaikan ibadah haji, tidak rafats dan berbuat fasik, maka ia keluar dari dosa-dosanya seperti hari di saat ia dilahirkan ibunya” HR Bukhari dan Muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah melarang berbuat keburukan, Allah SWT membangkitkan semangat mereka untuk melakukan kebaikan seraya berfirman, “Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya”. Dilihat dan diketahui Allah merupakan jaza” qabla”l jaza”, penghargaan dan balasan dari Allah sebelum balasan yang sesungguhnya. Sehingga memotivasi seorang mukmin untuk semakin banyak memproduksi berbagai macam kebaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tips Meraih Haji Mabrur&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Setiap jama”ah haji pasti berobsesi menjadi haji mabrur. Sebab, haji mabrur seperti sabda Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya, tidak ada balasan lain untuknya kecuali surga. Tetapi, ternyata tidak semua orang yang pergi haji ke tanah suci meraih predikat haji mabrur. Hal ini sebagaimana disinyalir oleh Umar bin Khaththab RA:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Orang-orang yang rekreasi (turis) itu banyak, sementara jama”ah haji (sejati) sedikit”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih banyak jama”ah haji yang beranggapan kepergiannya ke tanah suci sebagai rekreasi, bukan perjalanan suci. Masih banyak dari mereka yang tampilannya bak wisatawan, bukan Wafdu”r Rahman (tamu Allah). Jika hal ini yang terjadi alih-alih meraih haji mabrur, justru semua biaya dan tenaga yang ia kerahkan menjadi mabur, terbang dan hilang percuma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, Allah SWT dalam ayat di atas memberikan tips untuk meraih haji mabrur. Yaitu dengan memerintahkan orang-orang mukmin yang akan menunaikan ibadah haji untuk mempersiapkan bekal yang memadai. Bekal itu meliputi: Az Zaad Al Maaddi (bekal materi) dan Az Zaad Ar Ruhi (bekal spiritual). Perhatikan firman-Nya, “Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Termasuk dalam bekal materi adalah biaya selama perjalanan, biaya untuk keluarga yang ditinggalkan, kesehatan jasmani dan penguasan materi manasik haji. Sementara bekal ruhi adalah ikhlas, yaitu berhaji semata-mata karena Allah. Bukan untuk bangga-banggaan dan supaya dipanggil pak haji atau bu haji. Juga optimalisasi taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah. Inilah esensi takwa yang merupakan sebaik-baik bekal bagi jama”ah haji. Dengan takwa perjalanan haji yang amat berat dan beresiko ini menjadi ringan dan mudah. Dengan takwa haji mabrur akan menjadi realita, bukan utopia.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;a href="http://www.ummigroup.co.id/cetak.php?id=81"&gt;source&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15907701-112528178101145849?l=hajimabrur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hajimabrur.blogspot.com/feeds/112528178101145849/comments/default' title='Publier les commentaires'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=15907701&amp;postID=112528178101145849' title='0 commentaires'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15907701/posts/default/112528178101145849'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15907701/posts/default/112528178101145849'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hajimabrur.blogspot.com/2005/08/meraih-haji-mabrur-dengan-bekal-takwa.html' title='Meraih Haji Mabrur dengan Bekal Takwa'/><author><name>upay</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12306253052388235204</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://img.photobucket.com/albums/v189/upaysaleh/june2005.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
